MOTOR Plus-online.com - Keberadaan mata elang atau debt collector di jalan membuat resah pemilik kendaraan.
Tidak jarang terjadi aksi perampasan kendaraan yang menunggak cicilan.
Selain itu, perampasan kendaraan juga sering menimbulkan bentrokan.
Ternyata melalui aplikasi matel (mata elang) cukup masukan pelat nomor, data kendaraan bisa ketahuan.
Melansir Kompas.com, aplikasi Dewa Matel berfungsi sebagai alat bantu utama kolektor lapangan untuk mengidentifikasi, melacak, hingga memvalidasi data kendaraan yang terikat kontrak pembiayaan bermasalah.
Namun, lebih dari sekadar alat pencarian, aplikasi ini memperlihatkan ekosistem pelacakan kendaraan berbasis data besar (big data) yang menyimpan informasi sensitif masyarakat dalam skala luas.
Dari hasil pengamatan langsung, cara kerja aplikasi Dewa Matel berpusat pada basis data lokal yang terus diperbarui.
Aplikasi ini menyediakan fitur “Sinkron Data Terakhir” serta opsi “Download Database Baru”, yang mengindikasikan agen lapangan diwajibkan mengunduh daftar target kendaraan secara berkala ke perangkat masing-masing.
Baca Juga: Debt Collector Terancam, Komdigi Minta Google Blokir 8 Aplikasi Mata Elang
Saat fitur pencarian diaktifkan, terlihat indikator persentase “Pencarian Cepat” yang menunjukkan jumlah data yang telah terunduh.
Persentase ini memberi gambaran bahwa data yang tersimpan bukan hanya ratusan, melainkan ribuan hingga puluhan ribu kendaraan.
Mekanisme ini memungkinkan pencarian dilakukan secara instan, bahkan di wilayah dengan koneksi internet terbatas, karena data telah tersimpan secara lokal di perangkat pengguna.
Meski tampak sederhana di permukaan, akses ke dalam sistem Dewa Matel bersifat terbatas dan terstruktur.
Pada menu “Informasi Akun Aplikasi”, setiap pengguna terdaftar memiliki identitas digital yang lengkap.
Informasi tersebut mencakup nama pengguna, PT induk atau perusahaan utama, kode akun unik, serta nomor handphone yang terasosiasi.
Yang lebih krusial, terdapat kolom “Area Operasional” dan “Status Berakhir” akun, misalnya tertulis aktif hingga 16 Desember 2025.
Pembatasan wilayah kerja dan durasi akun ini menunjukkan bahwa operasional para agen lapangan berada di bawah pengawasan sistem dan terikat kontrak tertentu, meski legalitas praktiknya masih menjadi tanda tanya.
Baca Juga: Jangan Panik, Semudah Ini Mengganti Baterai Remote Keyless Motor Matic Honda
Fungsi utama aplikasi ini terletak pada fitur pencarian cepat berdasarkan nopol (nomor polisi) kendaraan.
Agen hanya perlu memasukkan sebagian atau seluruh nomor polisi untuk memunculkan daftar kendaraan yang terdata.
Dari riwayat pencarian yang terekam, hasil muncul secara instan.
Data yang ditampilkan mencantumkan nomor polisi, jenis kendaraan, seperti Honda New Beat Street ESP atau CRF150L, serta nama perusahaan pembiayaan yang menaungi kontrak tersebut, di antaranya AdiraWO, FIF, hingga Megapara, lengkap dengan kode cabang.
Ketika satu unit kendaraan dipilih, agen dapat membuka menu “Info Detail Kendaraan” yang menampilkan informasi jauh lebih rinci dan sensitif.
Pada halaman detail kendaraan, aplikasi ini menampilkan nomor polisi, jenis kendaraan secara spesifik, nomor mesin, nomor rangka, hingga tahun kendaraan.
Tak berhenti di situ, data kontrak pembiayaan juga terbuka.
Informasi seperti nomor kontrak atau perjanjian kredit (PK) serta nama pemilik kendaraan muncul dalam aplikasi.
Tak hanya melacak kendaraan, aplikasi ini juga memantau aktivitas penggunanya. Pada menu pengaturan, terdapat sakelar aktif untuk “Lokasi Penemuan Unit”, “Nomor Handphone”, serta “Tanggal dan Jam”.
Fitur ini memungkinkan kantor pusat memantau secara real-time lokasi dan waktu penemuan unit oleh agen lapangan.
Dengan kata lain, pergerakan para matel juga berada dalam sistem pengawasan digital.
Fakta di lapangan menunjukkan aplikasi ini dapat diakses oleh masyarakat umum, bukan hanya profesi matel, dan menyimpan lebih dari 18.000 data kendaraan dari berbagai wilayah, mulai dari DKI Jakarta, Tangerang, Bekasi, Depok, Bogor, hingga Manado dan Papua.
| Penulis | : | Ahmad Ridho |
| Editor | : | Ahmad Ridho |
KOMENTAR