Apa Itu Bobibos yang Sempat Viral, Dedi Mulyadi Siapkan Lahan di Lembur Pakuan

Ahmad Ridho - Selasa, 9 Desember 2025 | 11:06 WIB
bapenda.jabarprov.go.id
Bahan Bakar Minyak (BBM) Bobibos yang dibuat dari jerami ini diklaim lebih ramah lingkungan dan memiliki RON 98.

MOTOR Plus-online.com - Beberapa bulan lalu, Bobibos mendadak viral dan jadi perbincangan.

Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis baru yang dibuat dari jerami ini diklaim lebih ramah lingkungan dan memiliki RON 98.

Walaupun mulai redup dan perlahan sepi dari pemberitaan, namun Bobibos sempat membuat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tertarik untuk melakukan kerjasama.

Lalu apa itu Bobibos yang mendadak ramai diperbincangkan sebagai BBM alternatif baru?

Bobibos adalah singkatan dari 'Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!'.

Bobibos bahan bakar nabati (biofuel) cair yang dikembangkan dari jerami padi.

Bahan bakar ini diklaim memiliki oktan tinggi setara RON 98 dan emisi gas buang yang sangat rendah, sehingga bertujuan untuk menjadi alternatif bahan bakar fosil.

Bobibos merupakan hasil karya anak bangsa bernama Muhammad Ikhlas Thamrin dari PT Inti Sinergi Formula.

Baca Juga: Dua Bulan Kosong Shell Super Sudah Tersedia Lagi, Cek Harganya

Bahan baku utama Bobibos adalah jerami padi, yang merupakan limbah pertanian melimpah setelah panen.

Sementara proses pembuatannya diolah melalui serangkaian proses biokimia canggih untuk mengubah struktur selulosa jerami menjadi bahan bakar cair.

Setelah ramai diberitakan, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menunjukkan langkah cepat dalam mendorong energi terbarukan di daerahnya.

Ia mengumumkan akan menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan pemilik Bobibos, produk bahan bakar nabati (BBN) inovatif yang diolah dari limbah jerami.

MoU ini menjadi babak baru bagi Bobibos.

Dedi Mulyadi menyebut bahwa produksi skala kecil akan segera dimulai pada pekan depan setelah panen, dan rencananya dapat diakses masyarakat luas setelah melalui fase uji coba.

“Nah, ini bosnya Bobibos. Kita sudah tanda tangan MoU. Minggu depan kita panen, maka jeraminya akan segera dibuat produksi untuk bahan bakar nabati,” kata Dedi Mulyadi, Jumat (14/11/2025), dikutip dari channel YouTube KompasTV.

KDM, sapaan akrabnya, sangat antusias melihat potensi Bobibos yang tidak hanya menawarkan solusi energi ramah lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi para petani yang selama ini memandang jerami sebagai limbah.

Baca Juga: 3 Ribu Liter Bobibos Bisa Dihasilkan dari 1 Hektar Sawah, Anggota DPR Buka Suara

Meskipun optimistis untuk segera memproduksi massal dan tidak menunggu birokrasi, Dedi Mulyadi menyebut konsumsi awal Bobibos akan difokuskan pada uji coba di lingkungan Lembur Pakuan Subang, Jawa Barat.

"Setelah sukses, nanti ada langkah-langkah berikutnya. Minimal seluruh jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Barat ke depan menggunakan bahan bakar nabati. Sehingga APBD-nya efisien," jelas KDM.

Sebelumnya, uji coba Bobibos pada traktor diesel di Lembur Pakuan menunjukkan performa yang menjanjikan, awal pekan ini, diklaim memiliki Research Octane Number (RON) 98, dengan tarikan lebih ringan dan emisi gas buang yang diklaim lebih bersih.

Namun, di balik pengembangan Bobibos masih diwarnai pro dan kontra, terutama dari sisi regulasi dan kelayakan teknis dari pemerintah pusat.

Pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang diwakili oleh Menteri (kita gunakan Menteri ESDM), mengisyaratkan bahwa Bobibos masih memerlukan uji kelayakan dan standar yang ketat sebelum dapat diproduksi secara massal dan dilempar ke pasar secara nasional.

Proses uji ini penting untuk memastikan bahwa Bobibos memenuhi standar kualitas, keselamatan, dan tidak merusak mesin kendaraan dalam jangka panjang.

Sikap kehati-hatian Kementerian ESDM ini dilakukan untuk menjamin keamanan konsumen dan menjaga kualitas bahan bakar di pasaran.

“Pengujiannya harus komprehensif, tidak cukup hanya dari uji lapangan awal,” demikian salah satu pernyataan yang disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam beberapa kesempatan mengenai inovasi energi alternatif.

Baca Juga: Bobibos Diklaim Memiliki RON Setara Pertamax Turbo, Begini Penjelasan Lemigas

Adapun dari sisi akademik, kalangan perguruan tinggi menilai inovasi Bobibos menjanjikan, namun tetap membutuhkan uji multidisipliner yang ketat.

Dalam ulasan resminya, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menegaskan bahwa validasi bahan bakar baru tidak cukup hanya dengan hasil laboratorium tunggal.

Diperlukan serangkaian uji keselamatan produksi, standar emisi, serta ketahanan mesin dalam berbagai kondisi iklim dan merek kendaraan.

“Regulator harus memastikan produk tidak hanya bagus di laboratorium, tapi juga aman, andal, dan berkelanjutan di lapangan,” tulis FMIPA Unesa dalam ulasannya.

Penulis : Ahmad Ridho
Editor : Ahmad Ridho

KOMENTAR

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

YANG LAINNYA

TERPOPULER

Tag Popular